Pak Ogah merupakan sebutan untuk seseorang yang mengatur lalulintas khususnya di putaran, pertigaan, atau perempatan di jalan raya dengan mengharapkan imbalan dari pemakai jalan. Pak Ogah sendiri merupakan nama dari tokoh si Unyil. Pak Ogah merupakan tokoh yang berkepala botak dan tidak mempunyai kerjaan tetap. Kalau diberikan pekerjaan, yang sedikit berat, dia akan mengatakan ogah ah (yang artinya enggak deh!) dan kalau pun mau, dia akan minta imbalan cepek dulu (yang artinya seratus rupiah dulu).
Sebutan Pak Ogah memang pantas untuk orang-orang itu karena dulu, untuk sekali putar atau melintas, pengendara akan memberikan uang cepek. Sekarang tentunya sudah berubah. Koin seratus rupiah serasa sudah tidak ada nilainya. Mau beli apa dengan seratus rupiah?! Jadi sekarang paling tidak, Pak Ogah mendapatkan lima ratus atau seribu rupiah.
Tentunya penghasilan Pak Ogah memang tidak sedikit. Dalam sehari menurut perkiraan kasar aja, bisa mendapatkan paling tidak 200 x 500 = 100000. Biasanya mereka bekerja berkelompok, atau sedikitnya 2 orang. Jadi minimal dapat 50000. Ya, jumlah yang cukup untuk makan 3 x sehari di warung.
Mungkin bagi sebagian orang, Pak Ogah berguna karena setidaknya bisa melancarkan perjalanan mereka. Tetapi sebagian orang yang lain, justeru menganggap Pak Ogah ini mengganggu perjalanan mereka karena Pak Ogah tidak segan-segan menutup jalan yang lain untuk mendapatkan penghasilan.
Jadi tidak heran, jika dalam setiap hambatan lalu lintas, pasti kita dapatkan ada Pak Ogah di sana.
Yang paling aneh ialah Pak Ogah ini pernah disapu bersih dari jalan-jalan sehingga jalan menjadi lebih lancar dan tidak ada gangguan dalam perputaran. Tapi sayang, hal ini tidak berlanjut dan Pak Ogah mulai menjamur. Hampir tidak ada perputaran yang tidak ada Pak Ogahnya.
Saking besarnya penghasilan Pak Ogah, terjadi penguasaan dari orang-orang tertentu sehingga ada semacam 'setoran' dari Pak Ogah pada penguasa setempat. Jadi tidak heran jika sapu bersih Pak Ogah hanya berlangsung sebentar. Karena memang setorannya menggiurkan penguasa.
Jika pemprov DKI Jaya serius dalam menangani kemacetan lalu lintas, maka salah satu penyebab yang harus diperhatikan ialah Pak Ogah. Sapu bersih Pak Ogah dari jalan-jalan dan gantikan dengan aparat kepolisian yang lebih mengerti mengatur lalu lintas dibandingkan mereka.
Ayo, kita lihat, apakah pemprov DKI Jaya sanggup mengatasi penguasa-penguasa jalan raya ini? Tulisan diunggah tanggal 9 Maret 2013.
No comments:
Post a Comment